|
|
 |
 |
|
Wednesday, August 23, 2006
"Hidup tak semestinya di bawah" kata saya waktu makan siang secara tiba-tiba. Memang. Memang tak akan bawah selamanya. Sekarang saya di atas. Sarjana yang boleh dibanggakan. Kerja yang bagus, dengan gaji yang cukup. Mampu tinggal di rumah sendiri. Tapi,,, Tapi saya pernah berada di level yang paling bawah sekali. Bawah dan bawah. Tahap kemiskinan yang melampau, tanpa makanan, beras dan baju yang tak pernah berganti. No electricity, No water, No food, cuma ada beras sama garam. Atau minyak sisa gorengan yang entah berapa lama jadi lauk kami sekeluarga. Entah itu ubat kuat atau mungkin emak sudah lali dengan susahnya hidup, atau mungkin malangnya menjadi isteri yang ditinggalkan waktu masih hamil 5 bulan? Dengan 4 orang anak perempuan, tidak boleh membaca maupun menulis, tak banyak arah tujuan hidup emak. Apa yang saya tahu waktu itu? Masih berenang2 di dalam perut emak. Dan ceritanya semalam berjaya meneteskan air mata saya yang tak henti-henti. Saya lupa. Memang saya lupa saya pernah makan pisang rebus untuk seminggu. Saya lupa saat saya 8 bulan di dalam perut emak, saya masih di dalam air sawah. Saya lupa peristiwa waktu senja, saya,emak dan kakak diusir dari rumah. Saya lupa rasa garam dan nasi. Saya lupa rumah saya berlantaikan kayu yang hampir roboh dan beratap rumbia. Saya lupa pelukan emak malam kakak terakhir saya bernikah. Saya lupa emak tanggungjawab terakhir saya. Saya lupa waktu saya diketawakan di dalam kelas gara-gara status saya "anak yang ditinggalkan dan bukan yatim". Dan scholarship saya ditolak bulat-bulat. Saya lupa saat saya berjalan lebih dari 3 kilometer dari rumah untuk ke sekolah dan bangun seawal jam 4 pagi. Saya lupa pernah diusir kerana menonton tv di rumah tetangga. Saya lupa saya pernah di bawah. Semalam saya pernah lupa. Lupa untuk cuma 1 detik saat saya berkata "emak, saya tidak sanggup lagi".
Lalu emak menangis.
Buat emak: Emak, maafkan saya. Memang, anakmu pelupa.
Posted at 01:58 am by tapakrasa
Permalink
Monday, July 03, 2006
Entah apa yang tak dapat saya lupakan. Makan pecel lele di kedai Warisan? Ato nasi goreng gila? atau, Waktu dia manggung di Kemang atau melihat dia dari jendela kaca Dunkin?Atau saat dia pulang dari mesjid? Mungkin. Atau dia yang bangun pagi langsung ke kamar atas? Atau hari terakhir kami menonton di Taman Anggrek? Atau Bu Maryati? Ya. Saya tak dapat lupakan Bu Maryati. Bukan Cintah. Masih ingat sosok Bu Maryati nyuci lantai. Masih ingat bau tempe goreng Bu Maryati jam 11 pagi. Dan masih jelas sosok Bu Maryati yang lagi nyuci baju di kamar mandi. Saya kangen Bu Maryati. Betul.
:P
Posted at 03:12 am by tapakrasa
Permalink
Sunday, April 23, 2006
You just dont hate Monday, but you hate your days {recently} I wake up in the morning, I brush my teeth with facial cleanser, I wash my face with toothpaste, I listen to KT Tunstall - Black horse and the cherry tree. I got 3 big big big big pimples on my forehead and I just dont care, I read all my 1039 bulkmail and i ignore all my job, and i really enjoy reading my bulkmail:
Ween, enhance your penis. Ween, we know you are single! Ween, be champion in your bedroom. Ween, your kids need your attention. Ween, Ween, Ween,,,
What else?
Posted at 07:53 pm by tapakrasa
Permalink
Wednesday, April 05, 2006
lpr. kuda lumping.
Posted at 03:30 am by tapakrasa
Permalink
Tuesday, March 28, 2006
Dear obesiti,
Kalau nak bertambah pun tunggu la 10 tahun lagi ke, 15 tahun lagi ke, jangan la sekarang, plis. Lemak, kau sangat dem! Sempat ke lemak ni berkurang untuk 2 bulan dari sekarang? Biar kelihatan cantik depan mak mertua plis.
Ya Tuhanku, Saya mahu kurus. Mahu. Mau... Mahu... mauuuuuu.......
kurr. us......................
Posted at 02:04 am by tapakrasa
Permalink
Monday, February 20, 2006

Setengah dari postingan ini saya tulis di bandara. Pake pena ijau cintah. P/s: Cintah, kamu sadar ga pena ijau km ada dlm tas aku ;)
Sebak dan gerimisnya hati saya melihat pesawat Cintah dari jauh. Saya di ujung bandara menunggu pesawat saya jam 9 malam. Dan saya masih punya 4 jam lagi untuk berangkat. Dan jam segitu pastinya Cintah sudah di rumah. Saya membuka helaian pertama novel Ayat-Ayat Cinta. Memang pas sekali. Panasnya sama. "Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi" Air mata saya tumpah atas helaian pertama menjadi tumpuk-tumpuk basah. Jaket pemberian Cintah saya peluk erat. Baunya masih melekat. Kilas balik memori saya selama 3 hari bersama Cintah. Jumat, tanggal 17 Februari bermulanya hari indah saya. Jam setengah 11 saya siap sampai dulu di bandara. It's a long journey. Dua tas hitam saya tak terasa beratnya. Dan tak terniat di hati untuk duduk menunggu. Saya lebih rela berdiri. Terasa waktu terhenti-henti. Tiap orang yang lewat saya tatap penuh. Bukan Cintah. Bukan Cintah. Dan memang bukan Cintah. Saya bisa saja menunggu 4 bulan untuk pertemuan ini. Tetapi kenapa 4 jam ini terasa berat? Jam setengah 4 saya masih berdiri. Dan jantung berhenti berdetak saat saya melihat memang Cintah dari jauh. Saya langsung berlari mendapatkan Cintah, memeluk, dan dibalas erat. Memang itu Cintah. Saya paling senang saat dia ngelucu. Saat dia ketawa, dan tiap kata-katanya membuat saya senang. 21, 38, 45. 16, 30,19, 25? Tak pasti berapa. Dia bisa menjadi siapa saja. He's my colours. Lapar dan lelah saya hilang saat menatap Cintah. Saya mendapat begitu banyak kejutan. Tak menyangka, boneka singa yang saya belikan buat Cintah, dibalas dengan boneka singa juga,tapi di dalamnya ada kejutan yang lain. Terharu, anting2 S W saya yang patah dulu diganti lagi. Begitu banyak kejutan dari Cintah. Tapi yang lebih berarti sebenarnya lebih dari itu. Saya tak terharu diganti anting-anting huruf lagi,tapi terharu kalau kuping kanan saya ada nama dan dipakaikan Cintah. Dan, tak dapat saya ucapkan sebarang kata-kata saat saya dipakaikan kalung yang dititip ibunya. Terima kasih ibu. Dan buat Cintah, apalah artinya sebuah buku yang bagus jika dinilai dari kesungguhan Cintah yang saya tahu dari awal tak suka membaca ;). Apalah artinya isi buku yang bagus kalau ada penanda buku desain dari foto kita dan saya tahu tiap pemberian dari Cintah lebih sejuta ikhlasnya. Apalah juga artinya kaos biru itu tanpa desain dari kata-kata cinta kita ;) Ah. Tiap detik itu berarti. Masih ingat saat kita bergandengan tangan yang erat melewati lampu neon, dan jalan penuh sesak dengan bule dan turis yang laen? Masih ingat saat kita makan di warung jalanan? Atau makan nasi di foodcourt itu? Masih ingat saat kita duduk ngobrol di depan Planet Holiwud sambil ketawa dan ngebahas future? Masih ingat saat kita ketawa bersama sambil nyanyi lagu-lagu jaman dulu di bawah pohon? Saat-saat itu indah tau! ;) Dan malam itu saya jatuh sakit, kecapean, dan Cintah keluar sendiri ke toko di bawah belikan obat. Saya: "Bawa paspor kamu yank". Cintah: "Ouh ia yah" Saya: "Beliin aku panadol sama ENO, E. N . O. Kamu tau kan? Beli yang biru sama yang ijo yah cintah". Cintah: " ENO? Eno Netral?" Saya : :P Saat saya sakit, Cintah masih bisa membuat saya ketawa. Dan Cintah langsung buru-buru keluar bersama tas bali-nya. Lalu Cintah :-* Lebih dari sejuta kenangan saya bersama Cintah. Lebih dari sejuta kata-kata Cintah untuk meyakinkan saya bahwa "CUMA DIA" "emang orang laen tau payahnya aku kalo ween ngambek?" Dan semoga, Cintah tak hanya pulang bersama kebaya biru buat nyokap. Tapi pulang bersama niat saya yang tulus untuk hubungan yang lebih serius. Tak pulang bersama cerita ketemu Tante Yuli dan teman SMP di stasiun ya yank ;) Tak harus bersedih untuk pilihan tepat, tapi harus lebih serius untuk bisa hidup bersama. Amin. Terima Kasih Cintah. Aku sayang kamu.
Posted at 09:47 pm by tapakrasa
Permalink
Tuesday, February 14, 2006

Jadi begini nih kalau ada pertemuan. Tiap-tiap org mau keliatan cantik. Uh begitu kuch kuch ho ta hey skali. Aih. Critanya saya akan melewati wiken paling sibuk sejagat raya. Terima kasih Air Asia. (akan saya balas segala rasa kangen yang pernah ada).
"mereka-reka rencana,apa kita akan buat,jika ada perjumpaan..woo hooooo hoooo"
(cintah,lagunya bikin turn off ga si? :D)
Posted at 10:35 pm by tapakrasa
Permalink
Sunday, January 29, 2006
dudududududu~~~
du du du du du ~~~~ du du du du
kembalikan hatiku spt semula du du du~~~
Posted at 11:56 pm by tapakrasa
Permalink
Sunday, January 01, 2006
Sayonara? Tidak. Saya sayang 2005. Tunggu saja ceritanya.

Posted at 07:40 am by tapakrasa
Permalink
Monday, December 19, 2005
---------------------SAYA MAHU HIASTUS DULU-------------------------
Posted at 05:27 am by tapakrasa
Permalink
|
|
|